Something Good from Corona to my life


Assalamualaikum Pembaca Budiman,

4 (empat) bulan sudah ya kita #dirumahaja karena Pandemi Corona di Indonesia.
4 (empat) bulan sudah tentunya banyak hal yang berubah ya.

Aku pribadi, 4 (empat) bulan ini tetap #dirumahaja tentu saja mengalami berbagai perubahan yang cukup berarti dan barangkali menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan kelak bisa diceritakan kepada anak cucu kita.

Selama 4 (empat) bulan ini, aku itu :

1. Bekerja dari rumah.
Alhamdulillah, kantor memiliki sistem kerja yang mengatur untuk bisa bekerja dari rumah alias Working From home (WFH). Bekerja dari rumah, buatku adalah sebuah privillege yang sangat aku syukuri. Menjadi penyemangatku bahwa tidak semua orang memiliki privillege yang sama. So setiap hari aku selalu berusaha mengerjakan pekerjaan ku sebaik mungkin.
WFH sendiri bukan tanpa kesulitan tentunya,  menyeimbangkan antara pekerjaan rumah dan kantor tentunya menjadi PR buat kami working Mom ya. Di awal-awal sempat kaget, harus bangun lebih pagi untuk bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, membersihkan rumah dan memasak. Namun lama-lama menjadi terbiasa. Di sini peran pasangan sangat penting untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sekali lagi, aku bersyukur bahwa pasangan mau memberikan waktu dan tenaganya untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumahan.  Kebetulan jam kerja kantor di mulai pukul 08.30 WIB, sehingga masih ada spare waktu dari bangun pagi, mengerjakan pekerjaan rumah dan menyiapkan sarapan untuk keluarga.





2. Rajin memasak dan recook resep baru
Persoalan pandemi corona ini bukanlah hal yang mudah ya, pastinya pemerintah pun sampai detik ini juga terus mencari jalan untuk melakukan penanganan persoalan corona ini. Pastinya isu kesehatan menjadi hal utama, sehingga memasak makanan sendiri dan tidak jajan dari luar menjadi keharusan buat aku dan keluarga. Di awal-awal corona malah kami sekeluarga enggak jajan sama sekali dan aku pun mau tidak mau memasak makanan sendiri. Di sinilah peran teknologi sangat membantuku. Mulai dari pesan sayur mayur, buah-buahan hingga mencari resep menu menu mudah menjadi agenda setiap harinya. Tapi  alhamdulillah, keluarga pun tidak complain ya kalo masakannya mungkin menunya itu-itu aja. Sering kali aku bikin menu per dua mingguan, yang kemudian akan diulang di 2 minggu setelahnya. Hihihi, aku pun menyadari keterbatasan waktu dan tenaga, sehingga kadang memasaknya pun tidak memaksakan diri memasak menu-menu sulit. Nah karena sering memasak ini, akhirnya aku bikin manajemen per bumbuan, mulai bumbu kuning, merah dan putih. Meski kadang juga beli bumbu jadi sih. Banyak dijual kan sekarang, serba praktis ya. Tapi hikmah utamanya adalah mengurangi jajan di luar sehingga lebih hemat dan aku pun jadinya punya variasi dalam masakan. Percaya ga, aku sampai punya resep cilok sehat lho. Insya Allah aku tulis ya nanti resepnya. Mudah banget. Cemilannya bikin nagih nih.


3. Nemenin anak belajar dari rumah
Juna dan Gendis sudah 4 (empat) bulan ini belajar dari rumah. Sekolah Juna pun dilakukan via daring online. Belajar dari rumah bukan tanpa kesulitan ya, karena tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh Juna pun semakin banyak. Tak jarang kalo soal prakarya, aku menyerah. xixixixi karena memang enggak kreatif bebikinan. Kalo sudah seperti ini biasanya pasangan yang menghandle dan membantu Juna membuat prakarya. Oiya, sekali lagi disini teknologi membantu sekali lho untuk mengakses banyak hal soal pembelajaran anak. Tak jarang aku pun mencari ide untuk menambah ketrampilan Juna Gendis via internet. Alhamdulillah, Juna pun belajarnya mulai mengalami peningkatan. Aku pun senang dan saat kenaikan kelas kemarin, Juna dapat juara 3 di kelasnya. What a happy Mom.



4. Punya waktu melakukan decluttering rumah.
Iya, mengurangi barang-barang yang tidak terpakai di rumah. Di sini melakukannya enggak sekaligus ya, namun pelan-pelan. Yang pertama menjadi target adalah baju-baju aku, suami dan anak-anak. Sedikit cerita asal mula aku decluttering ini karena setelah pindahan itu ternyata porsi besar kardus-kardus adalah berisi pakaian. Selanjutnya aku pun bingung bagaimana menata baju-baju tadi, maklum karena rumahnyaminimalis sehingga Lemari pakaian pun juga minimalis. Akhirnya akupun mensortir baju-baju tadi dan alhamdulillah sampai sekarang sudah 50% baju-baju tersalurkan. Bisa ditebak ga, siapa pemilik baju paking banyak? Yups itu Aku. xixixixixixix. Namun alhamdulillah, sudah 50% pakaian tersortir sehingga lemari pakaian ku yang mungil pun muat. Kemudian menuju decluttering lainnya, yang paling susah itu adalah Buku dan Mainan anak-anak. Aku belum berhasil sampai 50% nih, karena kadang masing ada rasa disayang-sayang. Sementara tempat penyimpanan pun semakin minimalis. Alhasil aku dan suami sepakat untuk tidak beli mainan anak-anak dulu, begitu juga dengan buku-buku.

5. Mendapat banyak ilmu baru
Di masa pandemi ini, ternyata banyak sekali ilmu baru yang aku pelajari. Mulai photography, Cooking sampai menulis. Semuanya aku coba praktekkan salah satunya untuk mengelola sosial media ku seperti instagram sehingga kontennya pun lebih berbobot. Hihihi...Tak jarang juga mendapatkan teman baru yang ternyata juga baru belajar. Alhamdulillah ya.

Sekian ceritaku selama 4 (empat) bulan pandemi ini. Semoga kita semua selalu sehat ya dan pandemi ini segera berakhir. Cerita ini aku tulis bukan untuk pamer ya, namun untuk menuliskan rasa syukur kepada Allah SWT bahwa dikala pandemi seperti ini alih-alih memenuhi diri dengan kekhawatiran, aku memilih berdamai dan berusaha menciptakan something good and positive untuk aku dan keluargaku.

Salam,

Nonaseptiana

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EPOCH BAOBAB BODY BUTTER

Menyusuri Genting Highland

Secuil Cerita Perjalanan ke Labuan Bajo